Diarsipkan di bawah: Perenungan
Bahwa Dia sedang membuat kita merenung , sumpah kita, dulu, ketika menikah. Pasangan kita akan semakin tampak ketidak sempurnaannya. Tapi seharusnya, kita menerimanya apa adanya. Kita pernah bersumpah di akad nikah dulu: kita menerimanya dalam keadaan apapun. Kita bersumpah ‘mengabdi’ pada pasangan, sebagai wujud pembelajaran pengabdian pada Dia. Sempurna ataupun tidak sempurna.Allah pun demikian. Walaupun Dia Maha Sempurna, ada kalanya Dia tampak tidak sempurna di mata kita yang bodoh ini. Kadang tindakan-Nya menyakitkan kita, kadang menyebalkan kita. Kadang kita tidak memahami-Nya, kadang Dia demikian membingungkan. Kadang cinta kita pada-Nya terkikis. Meski demikian, akankah kita hentikan pengabdian ini kepada-Nya? Apakah kita hanya mau mencintai-Nya, jika Dia memberi imbalan saja? Jika kita mampu merasakan rasa dimanja-Nya saja?
Belajar ‘mengabdi’ (dalam tanda kutip) pada pasangan, pada akhirnya kita akan belajar mengabdi kepada-Nya. Kita berusaha memenuhi hak-hak anak dan suami sebaik-baiknya, seorang istri berusaha memenuhi hak-hak suami dan anak-anaknya sebaik-baiknya pula, maka lambat laun kita akan belajar untuk memenuhi hak-hak Allah sebaik-baiknya.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!